Kemenkes Ingin Menciptakan Mudik Lebaran 2016 yang Sehat, Aman dan Selamat Sampai Tujuan

JAKARTA: Tradisi mudik menjelang hari besar keagamaan di Indonesia khususnya untuk umat Islam merupakan sesuatu yang rutin terjadi setiap tahun. Peningkatan angka mudik menjelang dan setelah perayaan tersebut di ikuti dengan peningkatan jumlah risiko kecelakaan transportasi lalu lintas. Sehubungan dengan hal tersebut, Kementerian Kesehatan ikut serta berupaya memberikan kontribusi berupa sosialisasi kesehatan bagi pengemudi dan perusahaan otto bus. Sosialisasi ini berupa pertemuan yang diadakan oleh Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan RI dengan menghadirkan narasumber dari Kemenkes, Kepala Korlantas dan Ditjen Perhubungan darat.

 

“Tujuan pertemuan ini yaitu untuk menyebarluaskan informasi akan pentingnya pelayanan kesehatan bagi pengemudi dan mengurangi faktor risiko yang timbul akibat kegiatan mudik.” Kata Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, drg. Kartini Rustandi, M.Kes. “Kami juga memberikan pelayanan gratis pada peserta yang hadir saat ini untuk periksa kesehatan berupa pengukuran tekanan darah, gula darah sewaktu dan cholesterol,dan pengukuran antropometri” hal tersebut disampaikanya dalam laporan sebagai ketua panitia di hadapan 80 orang peserta yang hadir dalam pertemuan bertajuk “Mudik Sehat, Aman dan Selamat” di gedung dr. Sujudi Lt2 Ruang Siwabessy (8/Juni).

Selanjutnya sela-sela arahansekaligus pembukaan acara, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes, dr. Bambang Wibowo, Sp.OG(K), MARS mengatakan bahwa perlu adanya pengendalian upaya kesehatan optimal (preventif dan promotif) berupa penguatan sistem Gawat Darurat Terpadu 119 yang sekarang ini masih terbatas di 21 kabupaten/kota dan adanya kegiatan deteksi dini pada pengemudi. Kegiatan deteksi dini ini mencakup pemeriksaan tekanan darah, kadar alkohol dan amphetamine dalam tubuh dan Gula Darah Sewaktu dengan tujuan agar mencegah terjadinya kecelakaan sehingga dapat direkomendasikan bahwa pengemudi X tidak layak untuk berkendara jika didapati hasil yang positif.

“Perlu adanya sosialisasi untuk pengemudi dan perusahaan otto bus untuk bersama-sama mencegah terjadinya kecelakaan, menyadari dan memahami pentingnya kesehatan fisik dan kejiwaan pengemudi dalam menurunkan angka kesakitan dan kecelakaan bagi pengendara,” tegasnya. “ Kemenkes ingin membantu agar mudik yang menyenangkan dapat terwujud, yaitu mudik yang sehat, aman dan selamat sampai tujuan,” demikian harapan Bambang Wibowo.

Mobil dan pengemudi harus dalam kondisi baik

Pertemuan ini terdiri dalam dua panel utama, dalam panel pertama mengahadirkan 3 narasumber yaitu Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, drg Kartini Rustandi, M.Kes,IBDA Muhamad Syabani, dari Korlantas Polri, dan Wisnu Priyo Utomo dari Ddirektorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan. Di presentasi peratama IBDA Mohammad Syabani, dari Korlantas menjelaskan bahwa kepolisian Indonesia akan memberikan dukungan dan fasilitasi untuk mencegah kecelakaan lalulintas. “Operasi kami untuk tahun ini bernama Operasi RAMADHIYA (Ramadhan dan Hari Raya) yang akan berlangsung selama 16 hari dari tanggal 30 Juni sampai dengan 15 Juli 2016.” ujar Syabani. Sementara itu wakil dari Ditjen Perhubungan darat, menjelaskan juga bahwa faktor risiko manusia dan desain sistem kendaraan memegang peranan penting. Pengemudi harus mahir berkendara, fit dan kendaraan harus dalam kondisi baik dan siap. Mobil yang digunakan harus layak untuk digunakan membawa penumpang.

Menyinggung pentingnya peranan pengemudi, drg. Kartini Rustandi, M.Kes menjelaskan dihadapan peserta diantaranya para pengemudi, pengusaha otto bus dan wartawan akan pentingnya peranan pengemudi yang merupakan orang pilihanyang termasuk dalammoda transportasi dan .bertanggung jawab terhadap keselamatan awak penumpang serta masyarakat sekitar, “Pengemudi harus sehat jasmani rohani, berperilaku tertib dan sopan dijalan.” Kata Kartini Rustandi. Beliau juga menjelaskan faktor yang mempengaruhi kesehatan pengemudi baik internal dan ekternal salah satunya adalah faktor ergonomi.”Pengemudi yang bekerja dengan posisi tubuh salah/ tidak nyaman dan melakukan gerakan berulang terus menerus dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada otot tulang rangka, maka itu Pengemudi dianjurkan untuk melakukan peregangan/ stretching untuk melemaskan dan mengendurkan otot-otot sekitar 10-15 menit dengan gerakan yang sederhana dan dapat dilakukan didepan kemudi. “ jelasnya lagi.

 

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan peserta yang hadir maka di hadirkan pula 3 (tiga) orang narasumber lainnya dalam panel kedua, yaitu direktur P2M Kesehatan Jiwa dan NAPZA, Dr. H. Sidabutar yang menjelaskan tentang dampak penyalahgunaan NAPZA bagi kesehatan pengemudi. Kemudian di lanjutkan oleh dr. Tri Hesti Widyastuti, SpM, MPH, Direktur Pelayanan Kes Rujukan, yang menjelaskan tentang sistem pelayanan kesehatan dalam rangka mudik dan di tutup dengan presentasi Direktur PTM Ditjen P2P, dr. Lily S. Sulistyowati, tentang Pemeriksaan Kesehatan pada pengemudi.

Peserta antusias mendengarkan arahan dan masukan dari para narasumber. Pertemuan diisi juga dengan sesi tanya jawab dan terakhir rencana tindak lanjut yang di pandu oleh dr. Guntur, kepala subdit Okupasi dan Surveilance Dit Kesjaor.

Sosialisasi kali ini merupakan peran serta Kemenkes dalam mencegah faktor risiko kecelakaan saat mudik lebaran. Untuk itu pula diperlukan penanganan yang sinergis dari Kemenkes, POLRI, Kementerian Perhubungan dan lainnya guna menanamkan perilaku keselamatan dan kesehatan kerja bagi pengemudi dan perusahaan Otto bus. Ini merupakan upaya bersama guna mencegah faktor risiko kecelakaan di jalan raya khususnya dalam menghadapi arus mudik lebaran. (Dn).



 

Unit Kerja

Social Media

Link Terkait

Jumlah Pengunjung

.