Pelatihan bagi pelatih Kesehatan Kerja

Jakarta(26/2) Pelatihan bagi pelatih (ToT) Kesehatan Kerja yang diselenggarakan selama 7 (tujuh) hari yaitu tanggal 20 hingga 26 Februari 2017 di The Sahira Hotel Bogor, telah ditutup oleh Direktur Kesehatan kerja dan Olahraga, drg. Kartini Rustandi, MKes. Turut serta peserta dalam pelatihan ini pengelola kesehatan kerja, pengelola kesehatan lingkungan, dan widyaiswara Bapelkses provinsi sebanyak 60 orang yang berasal dari 23 provinsi di seluruh Indonesia. Pelaksanaan kegiatan Pelatihan bagi Pelatih Kesehatan Kerja ini merupakan salah satu upaya Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga dalam menyediakan pelatih dan tim pelatih kesehatan kerja di daerah, sehingga upaya peningkatan kualitas SDM Kesehatan Kerja di daerah dapat dilaksanakan dengan baik, terstandar, efektif dan efisien.

Pada sambutannya Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga menyampaikan bahwa kebutuhan SDM yang berkualitas di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia akan terus meningkat, sehingga diperlukan pemenuhan kuantitas yang disertai dengan peningkatan kapasitas SDM K3, salah satunya adalah melalui pelatihan yang terstruktur dan terstandar. Indonesia akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2020-2030 dimana jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen.Berdasarkan data BPS tahun 2015, jumlah angkatan kerja sebanyak 128,3juta (50,3% dari seluruh total penduduk). Untuk itu perlu dipersiapkan berbagai program pembangunan kesehatan yang diinisiasi dan dimplementasikan oleh Kementerian Kesehatan sehingga diharapkan dapat memberikan sumbangan positif bagi upaya mengoptimalisasi periode bonus demografi yang akan datang.  "SDM K3 yang terlatih diharapkan dapat berperan dalam menyiapkan pekerja yang sehat dan produktif", pungkasnya. 

Pelatih pada Pelatihan bagi Pelatih Kesehatan kerja ini merupakan para pakar yang berasal dari PAKKI, IIHA, Perkesja, Perdoki, Perhimpunan Ergonomi Indonesia, dan lintas program di Kementerian Kesehatan. Selain itu diadakan pula kegiatan senam pagi bersama serta kunjungan lapangan ke Puskesmas Ciomas, Pengrajin sepatu di Ciomas, dan PT Nutrifood.

Data tahun 2015 menunjukkan jumlah pekerja perempuan sebanyak 42,66 juta (37%) dimana 32 juta orang (67%) dalam usia reproduktif. Denganpeningkatan kesehatan pekerja perempuan diharapkan dapat berperan dalam mendukung pencapaian SDGs yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Selain itu, Indonesia saat ini tengah menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ketersediaan pekerja dengan produktivitas tinggi yang dapat bersaing dengan tenaga kerja asing diharapkan dapat mendukung pembangunan ekonomi Indonesia.

 



 

Unit Kerja

Social Media

Link Terkait

Jumlah Pengunjung

.