Sinkronisasi Sarana Pemeriksa Kesehatan Bagi Para Pemburu Devisa

Jakarta 21 Juni 2016, Banyak TKI yang dipulangkanoleh Korea Selatan. Kasus pemulangan ini terjadi tidak tekecuali bagi TKI yang telah bekerja beberapa lama di Korea, ataupun bahkan sesaat setelah tiba di Negara Korea yang kebanyakan karena kasus penyakit yang perlu pemeriksaan penunjang dengan radiologi.

Hal lain yang ditemukan dan juga perlu mendapat perhatian adalah terdapat perbedaan standar cara pemeriksaan penunjang untuk menyingkirkan suatu penyakit seperti contohnya untuk mendiagnosis suatu penyakit tuberculosisi (TB) di Indonesia hanya menggunakan dahak dan foto thorax, sedangankan di luar negeri dalam kasus ini di Korea harus di lakukan CT-Scan Thorax. Perbedaan ini memang krap terjadi juga di Negara lain tujuan TKI.

Untuk itu Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga mengadakan pertemuan Koordinasi Komite TKI yang ke 3, dimana agendanya kali ini adalah fokus untuk Menselaraskan standar pemeriksaan kesehatan untuk mendiagnosis / menyingkirkan kecurigaan suatu penyakit yang khususnya di nilai dari hasil pemeriksaan Radiologi.

 

“adanya permenkes itu (Pola Standarisasi Tarif Pemeriksaan Kesehatan TKI) adalah standard minimal yang harus diikuti, bila standar di luar negeri berbeda, maka kita harus meningkatkan standar tersebut” hal tersebut di kemukakan oleh DIrektur Kesehatan Kerja dan Olahraga drg. Kartini Rustandi, M.Kes dalam diskusi yang diselanggarakan di akhir sesi panel. Dalam pertemuan ini di hadiri oleh  Dokter spesialis radiologi dari Sarana Pemeriksa Kesehatan CTKI di seluruh Indonesia; Perwakilan Kolegium Kedokteran Spesialis Radiologi; Perwakilan BNP2TKI; Perwakilan dari Direktorat Fasilitas Pelayanan Kesehatan; Perwakilan dari Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan juga Perwakilan dari Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga.

 

 

Dokter dr. AzizahIcksan dalam paparanya mengatakan  “Dokter spesialis radiologi yang menemukan adanya penyimpangan atau penipuan dalam hasil pemeriksaan harus melapor ke organisasi profesi” hal iniperlu di apresiasi agar pemeriksaan kesehatan para pemburu Devisa ini bisa memberikan hasil yang optimal. “Jangan sampai karena ada 1 orang TKI yang seharusnya batal berangkat karena hasil pemeriksaan kesehatannya tidak FIT bisa menyebabkan 1000 orang TKI lainya yang bisa berangkat, menjadi tidak berangkat karena sarana pemeriksan kesehatan CTKI tersebut di suspend, karena itu tidaklah adil”

Beberpa point yang disepakati dalam pertmuaan ini adalah Pemeriksaan radiologi yang tidak normal atau hasilnya tidak baik maka sudah tidak memenuhi persyaratan fit to work. Khusu untuk Para dokter spesialis radiologi diharapkan untuk memperhatikan hal-hal penting yang didiskusikan dalam pertmuan ini dan diharapkan jangan sampai ada lagi kasus TKI yang dipulangkan karena masalah terkait radiologi.

Untuk menyikapi hal tersebut perlu adanya Rencana Tindak Lanjut diantaranya Membuat batasan jumlah foto pasien yang harus dibaca oleh dokter spesialis radiologi dalam satu sarana pemeriksa kesehatan CTKI dalam satu hari nya, karena hal tersebut terkait dengan tingkat kelelahaan seseorang yang bisa mempengaruhi hasil bacaan radiologi. Lalu perlu melakukan pertemuan dengan kemenaker, BNP2TKI, Kemenlu untuk membahas permasalahan pemeriksaan kesehatan TKI untuk tiap-tiap Negara penempatan.



 

Unit Kerja

Social Media

Link Terkait

Jumlah Pengunjung

.