Skip to content

Pedoman Pemenuhan Kecukupan Gizi Pekerja Selama Bekerja

REVIEW BUKU

 

  1. Data Buku
Judul Buku : Pedoman Pemenuhan Kecukupan Gizi Pekerja Selama Bekerja
Penulis : Dr. Ir. Budi Setiawan, MS, dkk
Penerjemah :
Penerbit : Direktorat Bina Kesehatan Kerja, Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat
Tahun Terbit : 2010
Halaman : 80 halaman
ISBN : 613.2. Ind. P

 

  1. Book Review

Permasalahan gizi di Indonesia berdasar Riskesdas 2007 yaitu gizi kurang (14,8%), gizi lebih (8,8%), obesitas 10,3%. Selain itu anemia di kalangan pekerja perempuan dan pria pun masih tinggi. Sudah banyak penelitian yang dilakukan terhadap kaitan status gizi dengan produktivitas dan konsentrasi pekerja. Namun permasalahan gizi pekerja masih banyak yang belum menjadi prioritas karena dianggap hanya akan menjadi beban anggaran perusahaan. DIsamping itu kesadaran pekerja mengenai pentingnya gizi dan kesehatan masih sangat kurang.

Faktor penyebab masalah gizi pada pekerja antara lain faktor social budaya dan ekonomi, kebiasaan/perilaku, beban kerja, faktor biologis pada perempuan, ketidaktahuan, adanya penyakit parasite/infeksi pencernaan, serta kondisi lingkungan dan fasilitas pelayanan kesehatan yang belum memadai.

Pemenuhan kecukupan gizi pekerja ditentukan berdasar tingkat aktivitas, usia, antropometri, jenis kelamin, status gizi, juga memperhatikan kondisi-kondisi khusus seperti kondisi fisiologis, kondisi lingkungan, dan kondisi gizi tertentu.

Salah satu kondisi fisiologis pekerja wanita adalah saat menyusui. Ibu yang bekerja berhak untuk mendapat perlindungan dan dukungan menyusui di tempat kerja. Untuk meningkatkan pemberian ASI di tempat kerja, pemerintah telah mengeluarkan peraturan bersama antara Menteri Pemberdayaan Perempuian, Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi, dan Menteri Kesehatan No.48/MenPP/XI/1/2008, PER.27/MEN/XII/2008, No. 177/Menkes/PB/XI/1/2008 tentang Peningkatan Pemberian ASI selama Waktu Kerja di Tempat Kerja. Pekreja wanita yang masih menyusui harus diberikan kesempatan dan dukungan dengan penyediaan fasilitas ruang ASI dan sarananya.

  1. Lesson learned
  • Dampak terhadap diri sendiri : Pedoman ini bisa menjadi bahan untuk review terhadap pedoman yang sudah ada sehingga dapat dipertimbangkan adanya revisi untuk perbaikan sesuai dengan perkembangan regulasi yang ada.

 

  • Dampak untuk Direktorat Kesehatan Usia Produktif dan Lansia : pengelolaan ruang ASI selama ini dipegang oleh Direktorat Kesjaor perlu berrkolaborasi dan bersinergi dengan lintas program dalam pemenuhan gizi pegawai yang menyusui di lingkungan Kementerian Kesehatan.