Skip to content

REVIEW PEDOMAN NASIONAL ASUHAN PASCA KEGUGURAN YANG KOMPREHENSIF

REVIEW PEDOMAN NASIONAL

ASUHAN PASCA KEGUGURAN YANG KOMPREHENSIF

 

 

A.             Data Buku

·  Judul Buku                       : Pedoman Nasional Asuhan Pasca Keguguran

Yang Komprehensif

·  Penulis Review               ­­­­­: Julina

·  Penerbit                            : Kementerian Kesehatan RI.

Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat

·  Tahun Terbit                    : 2020

·  Halaman                          : 114

·  ISBN                                  : 978-602-416-938-1

 

B.  Tujuan, Ruang Lingkup, Sasaran

Tujuan

1.   Tujuan Umum:

Terselenggaranya layanan asuhan pasca keguguran yang komprehensif

untuk menurunkan jumlah kematian dan kesakitan ibu.

2.   Tujuan Khusus:

· Teridentifikasinya peran dan tanggungjawab berbagai pihak dalam pelaksanaan layanan asuhan pasca keguguran yang komprehensif.

· Tersedianya acuan pelaksanaan layanan asuhan pasca keguguran yang komprehensif di masyarakat dan fasilitas kesehatan sesuai dengan tingkatan dan kapasitasnya.

Ruang Lingkup

1.  Konsep dan prinsip asuhan pasca keguguran yang komprehensif.

2.  Konseling asuhan pasca keguguran meliputi konseling terkait rencana tata laksana, dukungan psikososial, dan kontrasepsi pasca keguguran.

3. Tata laksana medis keguguran, meliputi evakuasi hasil konsepsi dengan obat-obatan dan tata laksana operatif.

4. Layanan kontrasepsi pasca keguguran sesuai dengan kebutuhan dan kelayakan medis,

5.  Pelaksanaan rujukan bagi perempuan yang mengalami keguguran untuk mendapatkan tata laksana medis dan layanan kesehatan reproduksi lain sesuai kebutuhannya.

6.  Peran keluarga, masyarakat, pemerintah dan swasta dalam penyediaan layanan asuhan pasca keguguran yang komprehensif.

7.  Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi dalam pelaksanaan asuhan pasca keguguran yang komprehensif.

Sasaran

1.   Sasaran pelaksana pedoman adalah:

· Tenga kesehatan di faskes tingkat pertama (FKTP) dan faskes rujukan tingkat lanjut (FKRTL).

· Pengelola program kesehatan ibu dan anak (KIA) dan kesehatan reproduksi di Dinkes provinsi dan kab/kota.

· Institusi yang berwenang melaksanakan pelatihan atau pendidikan tenaga kesehatan, khususnya terkait KIA dan kesehatan reproduksi.

· Penggiat dan pemerhati bidang kesehatan reproduksi, terutama yang berfokus pada masalah keguguran, upaya induksi keguguran yang tidak aman, dan kontrasepsi.

· Institusi, mitra pembangunan dan mitra kerja terkait layanan asuhan pasca keguguran yang komprehensif.

2.   Sasaran penerima manfaat pedoman adalah perempuan usia subur, khususnya yang mengalami keguguran.

 

C.  Book Review

Keguguran (abortus) diartikan sebagai berakhirnya kehamilan sebelum janin mampu hidup, yaitu ketika usia kehamilan belum mencapai 20 minggu atau janin < 500 gram, baik secara spontan maupun diinduksi.

Asuhan pasca keguguran adalah serangkaian intervensi yang dirancang untuk menangani seorang perempuan setelah mengalami keguguran, baik spontan maupun diinduksi. Asuhan pasca keguguran diberikan dengan pendekatan yang berorientasi pada perempuan sebagai pasien, yaitu dengan mempertimbangkan faktor fisik, kebutuhan, kenyamanan, keadaan emosional, situasi serta kemampuan perempuan tersebut untuk mengakses layanan yang dibutuhkan. Ruang lingkup asuhan pasca keguguran adalah keguguran insipiens, keguguran inkomplit, missed abortion, keguguran komplit, serta keguguran dengan komplikasi, seperti keguguran infeksiosa dan keguguran septik.

Asuhan pasca keguguran merupakan intervensi penting dalam menyelamatkan nyawa perempuan, serta menurunkan angka kematian maupun kesakitan ibu. Asuhan pasca keguguran juga merupakan salah satu fungsi yang tercakup dalam PONED/PONEK dan merupakan salah satu komponen dalam upaya kesehatan ibu.

Tenaga kesehatan perlu memperhatikan setidaknya tiga aspek dari layanan pasca keguguran yaitu pilihan, akses dan kualitas. Asuhan pasca keguguran yang komprehensif terdiri dari beberapa elemen untuk membantu perempuan memenuhi hak seksual dan reproduksinya, yaitu:

1.  Konseling untuk mengidentifikasi dan menjawab kebutuhan fisik dan

emosional perempuan serta kekhawatiran lainnya,

2.  Tata laksana medis untuk mengatasi atau mencegah terjadinya komplikasi  yang mengancam jiwa termasuk tatalaksana kegawatdaruratan, pencegahan infeksi, evaluasi hasil konsepsi, manajemen nyeri dan tata laksana komplikasi.

3.   Rujukan ke layanan kesehatan reproduksi atau layanan kesehatan lain

yang dibutuhkan, baik itu di dalam maupun di luar fasilitas kesehatan.

4.   Layanan kontrasepsi atau KB untuk membantu perempuan merencanakan dan mengatur kehamilannya.

5.   Kemitraan dengan masyarakat dan penyedia layanan lain untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, menjamin tersedianya layanan asuhan pasca keguguran yang berkualitas, menggerakkan sumber daya untuk memastikan perempuan mendapatkan asuhan pasca keguguran tepat waktu, dan memastikan bahwa layanan yang tersedia telah memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat.

Fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) harus memiliki panduan praktik klinis/ SOP dan mampu menyediakan setidaknya tatalaksana kegawatdaruratan kasus keguguran, konseling, evakuasi hasil konsepsi (di Puskesmas yang akses ke RS nya sulit atau kondisi gawat darurat, layanan KB/ kontrasepsi, rujukan serta kemitraan dengan masyarakat.

Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) harus memiliki panduan praktik klinis/ SOP dan mampu melaksanakan tatalaksana kedaruratan kasus keguguran, evakuasi hasil konsepsi, tatalaksana komplikasi, konseling layanan KB/kontrasepsi, rujukan serta kemitraan dengan masyarakat. Tenaga kesehatan yang terlibat dalam layanan asuhan pasca keguguran komprehensif di Indonesia setidaknya meliputi dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dokter umum, bidan dan dapat melibatkan psikolog, dokter spesialis kesehatan jiwa, tenaga kesehatan masyarakat, dll.